Di tengah gejolak geopolitik dunia, stabilitas bangsa Indonesia patut disyukuri. Menjaga harmoni ini membutuhkan peran aktif ormas Islam melalui pendekatan dakwah yang bijak dan mengedepankan kualitas sumber daya manusia.
JAKARTA – Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), KH Said Aqil Siradj, mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk senantiasa bersyukur atas kondisi bangsa yang tetap stabil dan rukun di tengah dinamika geopolitik global yang sedang bergejolak.
Pesan kebangsaan tersebut ia sampaikan saat memberikan pembekalan kepada para peserta Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Grand Ballroom Minhaajurrosyidin, Jakarta, pada Rabu (8/4).
“Alhamdulillah, Indonesia dalam keadaan stabil, rukun, dan kompak. Perbedaan itu wajar dan pasti ada, namun perbedaan antarormas bukanlah pada hal-hal yang bersifat prinsip,” ujar tokoh ulama nasional tersebut.
Mengedepankan Dakwah Bil Hikmah
Dalam arahannya, KH Said menekankan kewajiban umat Islam, termasuk setiap organisasi kemasyarakatan (ormas), untuk berdakwah menggunakan pendekatan yang bijaksana (dakwah bil hikmah). Ia mengingatkan pentingnya berdakwah melalui tutur kata yang baik dan ruang dialog yang berkualitas.
“Alhamdulillah, umat Islam di Indonesia sudah menjalankan pendekatan (dakwah yang damai) tersebut,” tambahnya.
Lebih mendalam, KH Said mengingatkan hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna karena memikul dua amanat besar: amanat ketuhanan dan amanat kemanusiaan (peradaban).
“Amanat langsung dari Allah terwujud dalam anugerah akal agar manusia mampu melahirkan gagasan. Dalam menjalankan amanat tersebut, niatnya harus baik agar tujuan yang dicapai bisa berhasil,” paparnya.
Ia juga mengajak umat untuk meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, termasuk kedisiplinan, ketaatan pada pemimpin, serta memiliki sifat sidiq (jujur dan benar) agar mampu membedakan hal yang baik dan buruk. “Agama harus dipimpin oleh orang-orang yang kuat dan berani. Mudah-mudahan LDII juga terus tumbuh besar dan mencapai kejayaan,” tuturnya.
Membangun Peradaban: Kualitas di Atas Kuantitas
Terkait amanat kemanusiaan, KH Said menyoroti pentingnya membangun peradaban dan kesejahteraan. Mengambil contoh dari tokoh-tokoh Islam masa lalu yang sukses membangun peradaban, ia mendorong LDII untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama organisasi.
“Mari kita bangun LDII yang berkualitas dengan ilmu pengetahuan. Utamakan kualitas, bukan sekadar kuantitas,” pesannya. Khusus di bidang pendidikan, ia berharap LDII terus mencetak generasi muda yang berilmu, cakap, serta menguasai keterampilan (skill) yang mumpuni demi mewujudkan kesejahteraan umat.
Respons DPP LDII: Relevan dengan Era Digital
Gagasan yang disampaikan oleh KH Said Aqil Siradj mendapat apresiasi penuh dari Ketua DPP LDII, Prof. Singgih Tri Sulistiyono. Ia menilai dorongan agar umat Islam tampil unggul dalam moralitas, kesejahteraan, dan perdamaian sangat krusial, terutama di era digital saat ini.
“Untuk mewujudkan umat yang unggul di era pasca-modern, kita tidak hanya membutuhkan peran ulama, tetapi juga sosok yang memiliki empati kemanusiaan yang tinggi,” ujar Prof. Singgih.
Ia menegaskan bahwa pesan terkait pendidikan, pembinaan moral, dan karakter luhur sangat selaras dengan visi dan program kerja LDII. Demikian pula dalam aspek kesejahteraan, di mana LDII memiliki fokus kuat pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat agar umat mampu mandiri dan memberikan sumbangsih nyata bagi negara.
Prof. Singgih juga menyetujui pentingnya penguasaan teknologi seperti yang diamanatkan KH Said. “Jika kita kalah dalam penguasaan teknologi dari bangsa lain, tentu kita tidak akan bisa menjadi pemenang,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Prof. Singgih memastikan bahwa seluruh pembekalan dari para tokoh nasional di Munas X ini akan diserap dan dijadikan landasan strategis dalam menyusun program kerja LDII untuk lima tahun mendatang.




