Selain adaptasi teknologi, Kemenko PMK di Munas X LDII juga menegaskan pentingnya resiliensi budaya dan nilai Pancasila untuk membangun SDM unggul.
JAKARTA – Organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang gagap teknologi dan mengabaikan kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan berisiko tertinggal oleh zaman. Kemajuan teknologi tidak bisa dihindari, melainkan harus dikendalikan dan dimanfaatkan secara maksimal untuk mengakselerasi program kerja organisasi di tengah dinamika global.
Peringatan tegas sekaligus memotivasi tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Prof. Warsito, saat memberikan arahan di hadapan peserta Musyawarah Nasional (Munas) X LDII 2026 di Grand Ballroom Minhaajurrosyidin, Jakarta, Kamis (9/4).
Menyetir Teknologi, Bukan Disetir
Menghadapi tantangan global dan masifnya inovasi digital, Prof. Warsito menegaskan bahwa manusia harus mengambil kendali penuh atas teknologi.
“AI itu adalah alat bantu, dan manusia yang bisa menjalankannya. AI harus kita yang setir, jangan sampai justru kita yang disetir oleh AI,” tegasnya. Ia menilai LDII perlu memperkuat akselerasi dan adaptasi teknologi ini untuk membangun resiliensi (ketangguhan) dalam menghadapi dinamika regional maupun global.
Keseimbangan Inovasi dan Nilai Pancasila
Meski mendorong penguasaan teknologi, Warsito mengingatkan bahwa kesuksesan pembangunan masyarakat tidak cukup hanya diukur dari tingginya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Kesuksesan sejati harus ditopang oleh inklusi dan kohesi sosial yang diwujudkan melalui semangat gotong royong (IPMas).
Ia menekankan, konsistensi dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila adalah tameng utama dari ancaman polarisasi identitas dan dampak negatif disrupsi digital. “Jika kita konsisten berpijak pada Pancasila, pengaruh dari dunia digital atau mancanegara tidak akan mengganggu keseharian kita. Kita patut berbangga, berkat Pancasila, hubungan agama dan negara selalu harmonis,” tambah Warsito.
Manajemen Risiko dan Bonus Demografi Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan program baru Kemenko PMK yang mengedepankan pilar manajemen risiko dalam menghadapi era ketidakpastian. “Saya yakini LDII sudah membuat program kerjanya dengan memasukkan manajemen risiko,” paparnya.
Hal ini krusial mengingat Indonesia sedang menghadapi bonus demografi sekaligus ketatnya kompetisi SDM antarregional. Warsito mencontohkan, kemahiran berbahasa asing kini menjadi syarat penting agar tenaga kerja lokal tidak kalah saing dengan pekerja asing di pasar kerja nasional maupun regional.
“Usia produktif saat ini memang mayoritas. Namun, jika tidak mampu bersaing atau berkompetisi, maka pertumbuhannya akan lemah,” ujarnya mengingatkan.
Empat Pilar dan Lima Ekosistem SDM Unggul Guna merespons tantangan menjadi peluang, Prof. Warsito menekankan pentingnya membangun resiliensi budaya yang ditopang oleh empat pilar utama, yaitu:
- Memiliki karakter dan integritas yang kuat.
- Memegang teguh jati diri identitas bangsa.
- Tetap hidup rukun dan bergotong royong.
- Siap menghadapi transformasi teknologi.
Pembangunan SDM unggul tersebut, lanjutnya, harus dipupuk melalui sinergi lima ekosistem: keluarga, masyarakat, pendidikan, tempat ibadah, dan ruang digital.
“Tempat ibadah adalah pusat penguatan keunggulan sumber daya manusia. Kelima ekosistem ini harus disasar bersama, baik oleh LDII maupun semua elemen masyarakat,” pungkasnya.




