NABIRE – Maraknya penyebaran hoaks dan informasi tak terverifikasi di dunia maya menjadi perhatian serius. Merespons hal tersebut, Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Rulli Kuswahyudi, mengajak generasi muda di Papua Tengah untuk lebih bijak dan kritis dalam menggunakan media sosial.
Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan materi dalam Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh DPP LDII bekerja sama dengan DPW LDII Papua Tengah, di Nabire, Selasa (22/9/2026).
“Media sosial ibarat pisau bermata dua, membawa dampak positif sekaligus negatif. Kami mengajak para peserta untuk lebih bijak agar tidak mudah terprovokasi atau dipecah belah oleh informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujar Rulli.
Selain sebagai instrumen literasi digital, Rulli menilai media sosial membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berdakwah. Ia mendorong para pemuda untuk aktif memproduksi konten edukatif yang merangkum berbagai program dan kontribusi positif LDII dari tingkat pusat hingga daerah.
Tak hanya soal etika bermedia sosial, pelatihan ini juga memberikan hard skill atau keterampilan teknis penulisan berita sesuai standar media arus utama (mainstream). Rulli berharap, bekal ini dapat mencetak kader yang mampu menghasilkan karya jurnalistik berkualitas, sekaligus membuka peluang bagi mereka yang tertarik terjun ke industri media.
Dorong Pembentukan Pokja LINES di Indonesia Timur
Pada kesempatan yang sama, Ketua Departemen Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM) DPP LDII, Ludhy Cahyana, mendorong DPW LDII Papua Tengah untuk segera membentuk Kelompok Kerja (Pokja) LDII News Network (LINES).
Sebagai kantor berita resmi organisasi, LINES dinilai memiliki peran strategis sebagai etalase publikasi, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
“Biro KIM di daerah harus menjadi motor penggerak publikasi. Kami mendorong agar KIM aktif mengajak LINES dalam rapat redaksi sehingga setiap agenda dan kontribusi LDII di Papua Tengah dapat dipublikasikan secara masif dan konsisten,” tegas Ludhy.
Memasuki era media baru (new media), mantan wartawan grup Tempo ini juga mengingatkan peserta akan pentingnya nalar kritis. Ia berpesan agar publik selalu memverifikasi sumber, konteks, dan kebenaran sebuah informasi sebelum memercayai atau menyebarkannya.
Mengakhiri materinya tentang penulisan berita langsung (straight news), Ludhy menginstruksikan para peserta untuk langsung mempraktikkan ilmu yang didapat di lapangan.
“Banyak kegiatan organisasi yang memiliki nilai berita dan layak dipublikasikan. Semakin masif publikasi dari Papua Tengah, hal itu akan menjadi inspirasi positif bagi warga LDII di berbagai daerah lainnya,” pungkasnya.





